Sabtu, 07 Maret 2015

Kurasa Cukup Adil


Hidup terkadang cukup adil, seperti sekarang ini. Seorang gadis terlihat suntuk menunggu di tempat ini, persis seperti yang pernah seseorang lakukan untuknya,, dan hasilnya pun sama, nihil. Mungkin ini yang oleh kebanyakan orang ditandai dengan  suka sekata-katanya disebut hukum karma, yak ku rasa kali ini gadis itu juga sepakat, yah sepertinya begitu.
Seperti biasanya, menunggu memang tidak pernah menyenangkan, apapun alasannya tetap saja membosankan, lalu gadis itu memutuskan untuk segera beranjak setelah menerka-nerka dan memberi sedikit ruang untuk rasa toleransinya menunggu untuk beberapa menit, mungkin sekitar tiga puluh menit, atau mungkin lebih, entahlah.
Karena dalam rentan waktu itu sosok yang sedang membuatnya bosan itu tak kunjung datang juga maka aku semakin ngotot untuk beranjak dan pergi seketika aku menyadari bahwa takkan ada artinya berlama-lama di sini menunggumu.
“Tunggu apa lagi? Ayo balik, ini sudah larut malam!” Teriakku sedikit kencang untuk mengimbangi bising suara music di ruangan sumpek itu, sambil meringis kakiku tersandung tungkai barbell yang mungkin beratnya lebih dari badanku sendiri, itu sih perkiraanku setelah berkali-kali namun tak pernah berhasil mengangkatnya, bahkan untuk memindahkannya sekalipun.
“Iya, sebentar lagi.” Balas lelaki berdadan besar yang tepat berdiri di hadapanku sambil meletakkan barbell dari kedua tangannya. Badannya besar mirip kepiting terkadang membuatku ngeri sendiri.
Mungkin sekitar pukul sepuluh kurang beberapa menit, jalan panjang yang kulewati masih dipadati pengendara lainnya yang berlalu lalang, sibuk dengan urusannya masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, mataku terpaku pada sosok teman yang sedang duduk santai mendengarkan music dari kedua kabel headset di telinganya, di berada di balik gerobak kebab Turki, cemilan yang tiba-tiba tenar di sini.
Karena kau tidak pernah bisa akrab dengan rasa penasaranku sendiri, maka ku coba untuk membuat kebab sendiri walau tak tertarik memakannya, tapi sepertinya itu untuk pelanggan yang tiba-tiba muncul dari depanku, ah aku sudah seperti penjual kebab saja.

0 komentar:

Posting Komentar