Hidup terkadang cukup adil, seperti sekarang ini. Seorang gadis
terlihat suntuk menunggu di tempat ini, persis seperti yang pernah seseorang
lakukan untuknya,, dan hasilnya pun sama, nihil. Mungkin ini yang oleh
kebanyakan orang ditandai dengan suka
sekata-katanya disebut hukum karma, yak ku rasa kali ini gadis itu juga
sepakat, yah sepertinya begitu.
Seperti biasanya, menunggu memang tidak pernah menyenangkan, apapun
alasannya tetap saja membosankan, lalu gadis itu memutuskan untuk segera
beranjak setelah menerka-nerka dan memberi sedikit ruang untuk rasa toleransinya
menunggu untuk beberapa menit, mungkin sekitar tiga puluh menit, atau mungkin
lebih, entahlah.
Karena dalam rentan waktu itu sosok yang sedang membuatnya bosan
itu tak kunjung datang juga maka aku semakin ngotot untuk beranjak dan pergi
seketika aku menyadari bahwa takkan ada artinya berlama-lama di sini
menunggumu.
“Tunggu apa lagi? Ayo balik, ini sudah larut malam!” Teriakku
sedikit kencang untuk mengimbangi bising suara music di ruangan sumpek itu,
sambil meringis kakiku tersandung tungkai barbell yang mungkin beratnya lebih
dari badanku sendiri, itu sih perkiraanku setelah berkali-kali namun tak pernah
berhasil mengangkatnya, bahkan untuk memindahkannya sekalipun.
“Iya, sebentar lagi.” Balas lelaki berdadan besar yang tepat berdiri
di hadapanku sambil meletakkan barbell dari kedua tangannya. Badannya besar
mirip kepiting terkadang membuatku ngeri sendiri.
Mungkin sekitar pukul sepuluh kurang beberapa menit, jalan panjang yang
kulewati masih dipadati pengendara lainnya yang berlalu lalang, sibuk dengan
urusannya masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, mataku terpaku pada sosok teman yang sedang
duduk santai mendengarkan music dari kedua kabel headset di telinganya, di berada
di balik gerobak kebab Turki, cemilan yang tiba-tiba tenar di sini.
Karena kau tidak pernah bisa akrab dengan rasa penasaranku sendiri,
maka ku coba untuk membuat kebab sendiri walau tak tertarik memakannya, tapi
sepertinya itu untuk pelanggan yang tiba-tiba muncul dari depanku, ah aku sudah
seperti penjual kebab saja.

0 komentar:
Posting Komentar